Tuesday, October 13, 2020

marhen, Buruh, dan Kenangan

Suatu hari lelaki itu konon mengayuh aepedanya di kota Bandung, hingga  tak terasa hingga sampai di selatan kota Bandung. Lelaki itu Soekarno, yang sedari kecil meletup jiwanya melihat perubahan dan gerak lingkungan. Tentu sebab tak sejalan dengan nurani, letupan-letupan itu melahirkan kritik dan pemberontakan pikir. Di kota yang dia menuntut ilmu mendapati petani menggarap lahan yang sempit, hidup kekurangan, dan serba terbatas.
Dan kemudian kata marhen lahir. Tidak boleh ada penindasan manusia oleh manusia lain. Tidak boleh penindasan bangsa oleh bangsa lain. Marhaenisme visa bisa jaya bila ada demokrasi yang benar benar dijalankan.

Saya ingat, ketika sekolah dasar dan setiap mengisi lembar data orang tua isian pekerjaan ayah buruh tani. Sebagai anak tentu menuruti ucapan itu. Tak panting merunut istilah. Ayah saya hanya lebih sreg dengan istilah itu. Sawah yang luasnya 2000 an meter persegi, dan rutin ditanami padi membuat ayah begitu bangga dengan pekerjaan itu. 

Buruh tani membuat saya bingung sebenarnya, hingga kemudian saya paham. Dari hasil sawah yang saat itu sepertinya belum mencukupi untuk menutup kebutuhan. Sehabis dari sawah, beliu menjadi tukang kayu. Pak Juhardo namanya, usaha mebelair membuat kusen, jendela, atau sesuai pesanan dari tetangga. Tentu kayu kayu yang dipakai bukan sembarangan.

Hingga berjalan tahun, mengerjakan sendiri di rumah. Pesanan bertambah, perlu tenaga maka mencari karyawan. Mengajari anak muda yang puluhan kilometer datang me rumah untuk belajar. Tetap saja kalau ditanya ketika saya mengisi blangko dari sekolah : Buruh Tani

Baiklah, kata buruh ini seperti dengung yang tak lepas dari telinga. Buruh semacam pengakuan, ayah saya menganggap dirinya marhenis, begitupun juga saya belakangan hari ini. Bekerja dengan mengandalkan upah, dengan alat  kecil dan bergantung dengan orang main.



Buruh akan selalu ada, begitu pikir saya. Ada yang tertindas, ada yang nyaman bahagia. Tinggal kau pilih yang mana....

Friday, October 9, 2020

Warung Jurang Bojong Koneng, Bogor



Tak ada tempat di Bogor itu biasa bisa saja, mungkin hanya belum ditemukan atau  belum diunggah di media sosial. Satu yang baru, dan sekarang tempatnya pecah adalah warung jurang. Kawasan ini berada di desa Bojong Koneng, Babakan Madang, Bogor. satu kawasan perbukitan dengan jurang yang berada di sebelah kiri jalannya. Dan bayangkan dengan jalan menanjak dan berkelok. Tapi tenang saja, untuk  motor tetap aman dan akan nyaman. Kalau dengan mobil, pastikan mobil sehat dan hati hati.  

Bojong Koneng itu mana sih, rutenya mana, dan bla,,bla jika anda punya pertanyaan banyak. Tenang, tetap tenang. Bojong Koneng itu dekat, sekat sekali...di hatimu...wkkkw..wkkkw tentu deket banget dengan hatimu, malah deket banget lho. Itu bila kamu suka ketinggian, gunung, alam, hijau, langit, dan tentu udara yang adhem. Ini deket sekali, ini lho rutenya...

11 Sentul atau pintu tol Sirkuit

Pernah lewat sirkuit sentul? pasti belum pernah, ya iyalah nggak semua orang bisa masuk sirkuit. Setidaknya baiklah paling di depannya, atau sampingnya. Kalau belum pernah ke sirkuit sentul coba googling deh, gampang kan. Atau ketika keluar pintu tol sirkuit kiri kan, terus mentok gerbang sirkuit belok kanan, arah ke hotel Haris, jalannya sekarang coran dan alus pisan  lho. Terus saja ikutin jalan itu, terus saja. Terus saja, santai jalannya lebar dan membuatmu nyaman, tapi jangan ketiduran bos….bahaya soalnya rame mobil tangki air atau mobil molen..bremm

Sampai deh sebelah hotel Haris, bisa lurus atau belok kiri, kalau kiri kita melewati pasar Babakan madang, lha di pertigaan pasar kita ambil kanan, kalau lurus itu ke guung pancar..uhuiii lengkap ya kalau pingin wisata. Setelah kanan tentu kita menemui polsek Babakan Madang ada sih setelahnya pertigaan kita yang ke kiri, kalau kanan kita melewati terowongan dan ini menuju desa Cijayanti.

Atau kalau dari hotel Haris kita yang lurus bertemu dengan LOVE, tahu nggak itu ikon kota Sentul, kalau lurus ke masjid Andalusia, kita ambil kiri deh, menuju ke Sentul city, ada juga plang Jungle Land, lha kita lurus tuh…hingga lewat gerbang sentul dan menikmati hijau adhem pemandangan. Pingin kan….

2. Pintu tol Sentul selatan

Tinggal ambil kiri kan, lurus dan ikutin jalan itu. Ketemu puteran ikon LOVE bisa baca di atas ya bos….

3. Rainbow Hill

Kalau lewat jalur ini kita menuju desa Cijayanti, keluar gerbang kan kanan…terus ikutin saja jalannya hingga nantimentok 0 KM sentul, kita ambil kanan turunterus paling sekiloan lah…satu kilometer bos…

Pingin kan, atau enggak…lihat dan coba dulu…








rempoa, oktober


Thursday, October 1, 2020

Batik dan Jarit Ibu

4 September 2008, Aburizal Bakrie yang juga Menko Kesra pada pemerintahan SBY, mengajukan batik untuk mendapatkan ICH di kantor UNESCO di Jakarta, batik sebagai warisan budaya yang luhur, di dalamnya tetmuat filosofi hidup yang mendalam. Dan akhirnya batik di akui sebagai cagar budaya non benda. 
Batik dengan Keppres 33 tahun 2009, SBY menetapkan sebagai hari batik nasional tanggal 2 Oktober. Batik menjadi ikon budaya bangsa yang naik dalam perhelatan nasional menuju international. Menjadikan kelas batik yang biasanya kampungan  menjadi wah dan glamour.

Di jawa batik adalah denyut hidup. Ia menjadi penghidupan dan kehormatan. Batik yang bukan kata benda adalah seni hidup, aktualisasi seni dan filosofi kehidupan. Batik yang bermula dari amba dan matik. Bagi orang jawa seperti saya, menghubungkan titik-titik malam dengan canthing  adalah kesabaran dan keindahan.

Ibu saya yang termasuk orang tua  dahulu hariannya memakai jarit, kain panjang tanpa jahitan dengan ukiran batik di kainnya. Semula saya beranggapan batik adalah kain itu. Bukan kemeja, sarung atau pakaian yang dikenakan dengan corak batik. Kain jarit itu amba  yang artinya lebar, dan motif yang digunakan perbagai macam. Kerangka, garis, isen berpadu membentuk pola keindahan dan filosofis.

Pernah sekali kain jarit menjadi barang mahal. Konon ratusan kekayaan bisa ditukar dengan kain ini. Menurut cerita orang tua, bisa jadi rumah seseorang hanya ditukar selembar jarit. Tentu ini tentang motif, tentang halus, dan kerumitan. Ibu saya sendiri senang dengan sifomukti, saya tak banyak tanya, hanya dalam bahasa jawa ini sangat mendalam artinya; menjadi mulia.



Begitulah, ibu saya yang suka berjarit tak pernah melihat atau merayakan hari batik. Pun begitu ibu saya selamat hidupnya memakai jarit. Ada beberapa jarit simpanannya saya jadikan kemeja. Memang ini tidak elok. Tapi jarit yang belum dipakai dan menjadi simpanan tentunya. Kalau yang sudah dipakai tentu dijadikan kemul,  untuk menyelimuti kenangan, sebab kain ini biasanya adhem dan nyaman.

Rempoa, oktober 2020

Wednesday, September 30, 2020

Surau di atas Bukit

Apa engkau tahu kenapa orang tua itu selalu berada di shaff pertama? Sebelum azan terdengar, akan ada langkah datang, ketukan tiga kali-dua kakinya dan satu tongkat kayu yang licin sebab gesekan tangannya.  Apa engkau juga tahu kenapa ia bisa buta? Tak banyak yang tahu keberadaan dan muasal orang tua itu, sebab ia jarang berdiam di satu masjid. Apa engkau juga tahu berapa masjid yang sudah ia kunjungi? Ah, saya yakin kehadiran orang tua itu mungkin saja hanya menganggu pandanganmu, atau malah menganggu niatmu.



Bila sempat atau sekedar lewat di kota itu pasti akan berjumpa dengan angin yang sejuk. Tanah yang berkelok tak rata. Tanaman hijau menyebar- melayangkan mata pada surga, pada keindahan yang kentara. Gunung Lawu memang elok dalam lukisan sang pencipta, gagah memaku tanah agar tak goyah. Hanya sayang, sungguh memang sayang. Dulu di bukit sebelah timur ada satu bangunan yang terlihat manis. Bangunan mungil yang bila malam cahaya pethromaknya memerangi luas gelap malam di sekitarnya. Sebuah Surau yang senantiasa terdengar alunan orang mengaji, padahal bila siang surau hanya ada mbah Jogo. Tak banyak yang tahu kenapa suara mengaji itu sering terdengar, walau siang hari. Dan kini  surau  itu seolah tanggal dari lukisan, hilang melayang oleh kenangan.

Dan hanya sedikit kisah yang bisa aku dengar tentang orang tua itu. Kisah yang hanya menjadi dongeng sebelum tidur. Sebab kami hanya mendengarnya, sekali lagi hanya mendengar. Kisah yang masuk lewat telinga kanan dan keluar dari kiri, tak benar-benar kami merenungkan yang terjadi. Tentu dongeng tentang orang tua itu. Tentu dongeng tentang surau di atas bukit, dan kejadian yang membuatnya buta.

**

Seperti ada yang lain, sesuatu yang kurang. Suara alunan ayat-ayat suci itu beberapa hari ini tidak terdengar lagi. Pasti dan selalu ditunggunya adalah ketika Ayah pulang dan kemudian terdengar alunan nada yang sangat mendayu, menyentuh  telinganya, bergetar dan perlahan mengalir dan menimbulkan ledakan yang cukup dahsyat di hatinya lalu menaburi segenap jiwanya. Rasa damai, ketenangan dan bergumpal cahaya. Cahaya itu akan ditatapnya, persis seperti dulu.

Duduknya semakin gelisah, badannya yang kecil terlihat semakin mungil, kedua lutut tercium wajah dan ada sedikit kekawatiran.

“Ayah belum pulang, Mak?”

Emak tak menjawab, tangannya masih sibuk dengan ubi, menguliti, memilah, dan mengumpulkan kulitnya pada keranjang. Mimik wajahnya memperhatikan anaknya, tetapi suaranya terhenti di tenggorokan. Ia tak tahu kenapa suaminya belum pulang.

“Masih lama ya, Mak, Ayah pulang?”

“Masih lama, tidur saja!”

“Belum ngantuk, Mak.”

Sebentar kemudian emak hanya melihat sekilas anak semata wayangnya dengan kasihan. Ia tahu bukan sebab ia belum mengantuk. Emak tahu anaknya itu ingin mendengar suara ayahnya mengaji.

Araaf terus saja gelisah, dengan tertatih mendekat ke meja, tangannya ingin meraih gelas yang berada di meja, tangannya tak sengaja menyenggol gelas yang berisi air dan tumpah. Araaf kaget, air membasahi bajunya. Emak hanya melihat dengan rasa kasihan. Emak selalu teringat pesan Kahar, suaminya bila Araaf jangan sampai terkena kata-kata yang kasar.

“Mak, bajunya basah lagi.”

“Nggak apa, ganti yang kering. Pakai kaos saja!. Ayah akan pulang larut malam.”  

Arraf hanya mengangguk dan lepas menuju lemari pakaian. Semula ia hendak memakai kaos, tetapi diurungkan saat dari luar ayahnya uluk salam. Bola matanya kembali terang.

Araaf akan kembali mendengar bagaimana cerita ayahnya tentang Mbah Jogo, suaranya yang merdu, nasihat sederhana namun meresap di hati. Pendengar seolah akan tergerak mengikuti, walau sebenarnya nasihat yang diberikan sering terdengar. Entah mengapa nasihat yang diberikan Mbah Jogo seolah membentur palung paling dalam dari hati. Konon nasihat Mbah Jogo mudah dilaksanakan sebab sudah diamalkan sendiri, tak sekedar teori yang didapat. Amalan itu telah mengakar dalam hidupnya sehari-hari. Orang yang melihatnya seolah mengikuti yang dikerjakan beliu. 

Begitu juga Araaf yang dengan mudah menunaikan nasihat. Makan  dan minum dengan tangan kanan,  membaca doa, mendoakan orang tuanya, membantu emak mengantar gethuk ke warung-warung. Dan sering ia dengan dari kedua orang tuanya,  Kahar dan istrinya senantiasa bersabar, menjalani hidup dengan banyak bersyukur walau kekurangan. Nasihat yang mudah diterima, dan mudah dijalankan. 

Kahar baru saja membaca taawudz, kemudian dari pintu sudah terdengar salam dan ketukann yang seperti terburu-buru. Wajah Araaf bingung, 

“Siapa, pak?”

“Kita lanjutkan besok saja, baca doa lalu tidur!”

Arraf mencium tangan ayahnya, walau sang ayah pandangannya menuju ke pintu dengan rasa khawatir. Sang emak mengajak anak kecil itu ke kamar, menutup gorden dan meninabobokan.

“Ada yang membakar surau, Kang. Api sudah membakar sebagian, jamaah yang lain masih berusaha menyiram.”

Kahar ragu, apakah akan pamit atau langsung ke surau. Ia ingat pesan Mbah Jogo: Sebaiknya berpamit kepada istri jika ingin bepergian, agar kepergian disertai keikhlasan dan doa. Kahar memutuskan masuk ke kamar menyusul istrinya. Tak berselang lama Kahar keluar dengan tergesa. Keduanya menuju ke Surau.

Sebentar kemudian anak kecil itu berjalan mengendap-endap. Langkahnya pelan agar tak membangunkan emaknya, membuka pintu dan mendapati gelap yang pekat. Ia berlari menuju surau, jalanan setapak turun-naik itu seolah jalanan lebar dan halus. Kaki mungilnya hapal dengan jalanan itu. Setiap hari jalanan itu memberi pesan dan nasihat agar selalu berhati-hati. Setelah mendengar surau milik Mbah Jogo terbakar, pesan itu seolah lenyap. Ia harus berlari dan membantu mencari air untuk menyiram.

Api itu seperti monster menakutkan, memeluk surau dengan kekar. Kaki mungil Arraf bergetar melihat api berkobar dan orang-orang berlarian menyiram. Tiba-tiba terdengar suara ledakan, beberapa kayu terlempar dan mengenai kepala Arraf. Tak ada yang tahu kejadian itu, mereka sibuk dengan air dan Mbah Jogo yang tak kelihatan.

Pagi hari, setelah bangunan surau rata dengan tanah anak kecil itu tersenyum di bawah kayu yang menindihnya. Pandangannya gelap, ia tak melihat siapa-siapa.

“Araaf kenapa kamu di sini.”

Arraf hanya diam, ia tak bisa melihat siapa yang bertanya. Kahar membopong anaknya pulang. Beberapa warga sibuk membersihkan sisa kebakaran.  


**

Sekarang engkau tahu siapa lelaki itu bukan. Kami hanya suka mendengar dongeng ini, dan mungkin kelak anak-anak kami juga akan kami dongengkan hal yang sama. Pernah beberapa tetangga kami yang kebetulan bertemu dengannya hendak memberi uang sebagai penghormatan yang lebih tua,  ia akan menolak. Rasa kasihan menurutnya lebih banyak melupakan dirinya, selama masih ada ia akan menghilangkan rasa iba orang kepada dirinya. Meskipun buta, lelaki itu masih berdagang. Setiap orang yang ditemui tak semuanya ditawari barang dagangannya. Dan bila engkau ditawari batu, terima saja. Sebab batu itu bukan sembarang batu. Itu batu dari olahan tangannya. Batu yang direnteng sejumlah tiga puluh tiga. Dan jangan banyak bertanya bagaimana batu-batu itu bisa direntengnya. Hasil penjualannya akn disisihkan untuk membeli bahan bangunan. Memang, ia telah mengumpulkan beberapa bahan bangunan di rumahnya. Ia bermimpi memiliki surau, walau banyak masjid megah di pegunungan Lawu. Masjid yang katanya sepi itu akan membuatnya tersiksa. Ia ingin membangun surau agar nyaman hidupnya. Dan jangan bertanya tentang tasbih batu itu, sebab jawabnya pasti sama,

“ Agar hatimu tak lekas membatu.”


Omah Gedheg 2012


Sunday, September 27, 2020

Martabak dan Saya

Mula pertama di Jakarta (dulu) adalah tentang keheranan saya dengan penamaan martabak, iya Martabak. Makanan dari bahan dasar terigu itu membuat nggumun. Gerobak penjual martabak begitu banyak, seperti berjejer. Baiklah, dalam ingatan saya martabak telur lebih mengena. Kalaupun ada martabak Manis, saya lebih terasa melihat kue terang bulan-- begitu ingatan saya dari kampung. Walau variasi rasa mata lebih kaya warna. Martabak Manis, ya mungkin kue terang belang versi kota.
LE

Martabak, konon berasal dari arab. Dalsm bahasa indonesia berarti terlipat. Bisa dibayangkan hubungan ini. Kue ini, katanya lagi sajian yang ditemukan di Arab Saudi. Mungkin juga keterbatasan saya, ketika pernah di Arab Saudi, oleh teman saya dibelikan roti buaya ( versi betawi) roti ini dimakan dengan kuah bumbu kari. Mungkin juga teman saya yang kuliah di darul Qur' an lebih mengenal roti itu, daripada jenis martabak.

Kembali soal martabak. Beragam gerobak martabak menawarkan rasa beragam, juga rasa lokalitas. Sebut saja martabak bangka, Dan bandung. Kota Bangka dan Bandung seakan ingin menjadi semacam sejarah muasal martabak. Kue ini memang Manis dari keuntungan dan juga rasa. Boleh saja memberi stempel martabak menurut lokalitas berasal, tetapi beberapa kali membeli kue ini membuat kaget.

Martabak juga tersebar di  Malaysia dan Singapura, mungkin saja kemelayuan dan kearaban kadang berpadu rasa di lidah. Ada yang menamai kue apam balik, kembali saya ingat Ibu saya kalo mau lebaran syawal membuat apem, yang digarang atau didhang  tetapi sepertinya bukan dari terigu, namun dari tepung beras.

Pada suatu kesempatan, penjual warung nasi asal brebes, tetapi juga menamai warungnya warteg membuka usaha gerobak martabak.
: anak kecil di desa saya pasti bisa buat martabak, mas....

Ini membuat arah ekspetasi tentang martabak berubah. Berubah segalanya, dari anak anak bisa membuat martabak adalah seperti menjadi kekayaan lokalitas. Pun begitu, membuat arahnya kekayaan pengetahuan.



Di Kodau, Bekasi, Rempoa, dan Juga Sentul hampir penjual martabak berasal dari Brebes. Ini luar biasa.Brebes memang top, juga telur asinnya.

Boleh saja penjual martabak dari mana saja, selain tidak mengklaim ngawur. Bilang martabak bangka, tapi asalnya dari Brebes, atau Martabak bandung, namun asalnya dari Tegal. Pun juga pedagang martabak boleh ingin menjadi apa saja. Lurah, camat, bupati, gubernur atau presiden, tetapi biasanya nggk setinggi itu. Kecuali pengusaha martabak, yang pingin jadi apa saja.

Rempoa, 28 sept 2020

Saturday, September 26, 2020

Bertanam Kangkung di Hati


 Setidaknya waktu Sekolah Menengah saya pernah beternak kelinci, tahun 2000 an awal. Kelinci itu didapat dari membeli, ketika melihat bentuk dan warna yang menarik lalu  membawanya pulang ke rumah, membuat kandang dengan bentuk rumah kecil dari kayu. Bukan sebab punya duit lalu pakai bahan kayu, kebetulan selain petani ayah saya adalah tukang kayu. Limbah kayu dimanfaatkan sebagai dinding kandang dan atapnya memakai genteng beneran. Lalu yang membuat hari saya berwarna adalah ngarit. Mencari pakan bagai peliharaan seperti sunnah bagi peternak. Keasyikan dan romantika mencari ini seperti rutinitas yang membuat bosan, dan kadang ngangenin.  

Sebab kelinci suka kangkung, begitu anggapan saya waktu itu. Bisa tiga hari sekali pada mulanya ngarit mencari kangkung. Pekerjaan mencari ini sebab saya tak menanamnya. Tanaman kangkung sebenarnya mudah ditemui. Kangkung yang tumbuh di air dan memiliki bunga putih. Bunganya seperti terompet dengan di tengahnya warna ungu. Bagi saya warna ini begitu cantik, tetapi dengan tega saya memutus keindahannya. Membuat kangkung meregang hidup, pasrah dengan kuasa tangan dan ambisi demi keberlangsungan pertumbuhan kelinci saya. Tentu masih ada halangan jika ngarit di sungai, rawa, atau yang berair. Di lahan tersebut bisa saja ada ular, yang tentu ular yang beraneka macam dengan bisanya- mengancam kaki, tangan, kalau perlu mengancam nyawa. Inilah mungkin yang membuat bosan dan membuat tak nyaman ketika ngarit.

Kelinci itu mudah berkembang, pakan yang mudah didapat, serta ruang kandang yang lega. Hanya sayang, sebab alasnya tanah tanpa plester maka kelinci membuat tempat persembunyian, membuat rongga tanah dan menjalar ke segala arah. Tanah menjadi tak beraturan dan ini yang membuat tidak nyaman. Salah satu jalan kemudian harus membuat kandang dengan panggung. Dan kandang ini bukan tanpa hambatan. Memang segala sesuatu tak ada yang mulus, ...

Baiklah sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan tentang kangkung, tanaman ini yang mudah tumbuh dengan kadar air yang harus ada. Sebenarnya, setelah saya mencari tahu dikemudian hari  ada kangkung darat, tetapi saya belum pernah sekali menemukan. Mungkin sudah tidak valid, membayangkan kangkung yang ditanam ditegalan atau bahkan kebun menjadi sulit untuk digambarkan. 

Setelah berjalan tahun, dan kemudian ada kehidupan yang lain. Bertanam kangkung menjadi trend petani modern. Saya menyebut petani ini modern sebab bertani hanya hobi dan menyalurkan naluri. Media yang dipakai juga sederhana, tak berjalan jauh dari dapur dan kasur. Mereka bisa menanamnya di garasi, di atas cucian piring atau diroftoop. Cara tanam Kangkung modern sungguh membuat bahagia, tanpa target, tanpa berpikir gagal. Ketika panen bisa dimasak, dibagi ke tetangga, dan yang pasti bisa buat konten swaphoto. Bertanam kangkung bisa menjadi bahagia, berbagi di laman jejaring sosial dengan senyum

Dengan uang sepuluh ribu sudah mendapat 500 biji bibit. Tentu perlu menyemai, menanamnya, merawatnya, menyirami dan memberi nutrisi. Pelbagai teknik bisa dengan mudah dicari dengan gawai di tangan. Angan itu mudah. Bertanam kangkung sangat mudah. Bertanam mudah itu dengan hati riang, bahan pokok tersedia, tabungan ada, keluarga tak sehat tak ada yang sakit. Maka bertanamlah kangkung, menyemai bibit untuk belajar bahagia.

Adakah kebahagian lahir dari keterpaksaan?

selamat menikmati bahagia dengan Kangkung.

Chandra Baru, 27 sept 2020 

  

Hari Tani, Petani, dan Kota

Kebunku

Ketika tonggak pertanian dicanangkan Soekarno, Keppres No 169/1963, sebagai kenangan Undang Undang Pokok Agraria ,UU No 5/1960 Petani seolah mendapat angin Segar. Keberadaan Petani seolah menjadi mulia terhadap keberlangsungan negara. Hal ini kembali diungkapkan Soekarno ketika peletakan batu Fakultas Pertanian Universitas Indonesia yang sekarang menjadi IPB. pertama 


: Pidato saya ini mengenai hidup matinya bangsa kita dikemudian hari. begitu uraian tentang pangan sebagai hal pokok untuk kemajuan bangsa. 


Sektor pertanian memiliki andil dalam 15,46% pada PDB  Indonesia, di triwulan II -2020 tentu ini bukan teori yang didapat oleh BPS, sektor pertanian menjadi alat pacu ekonomi, walaupun sektor ini semakin hari semakin bergantian stakeholder, kepentingan seolah terpinggirkan.


Teringat dalam catatan, 1984 Soeharto menggebrak dengan swasembada pangan, tahun itu Indonesia diakui dunia. Terlepas Dari strategi ataupun iming iming untuk investor asing setidaknya swasembada pangan terus menjadi buah bibir pertanian dan kemajuan negeri. Dan selanjutnya kebijakan orde baru, reformasi dan pasca reformasi apakah berpihak kepada Petani?


Ayah saya adalah Petani, seusai shalat subuh dengan sepeda kumbang  menuju sawah, dulu tanah di Jetis, Joho, di Sukoharjo adalah tanah untuk sawah. Ada sungai untuk irigasi yang lumayan besar, tentu sebelum industri tekstil Sritex menjadi sebesar Sekarang. Ayah saya hanya Petani kasar, tanpa pekerja, bila semua dikerjakan sendiri. 


Dan mungkin keterbatasan saya kemudian tak mengenal hari Tani atau semacam perayaanya. Petani dalam bingkai mata saya adalah mengolah sawah, membayar iuran DharmaTirta atau membeli Pupuk berapapun harganya. Sebab ketahanan pangan keluarga lebih penting dari pada tethek bengek tentang negara.


Setidaknya Petani terus berupaya melestarikan ketahanan pangan keluarga, jika mereka mencari keuntungan lebih besar dan mulai berdagang itu mungkin hanya ingin beriringan dengan jaman. Maka tak heran dari beberapa group Facebook yang saya ikuti hanyalah berisi keluhan. Seabrek kebijakan, tapi tak beriring dengan kebutuhan Petani. Sebutlah tentang kartu Tani dan pupuk. Mereka ingin beli pupuk, namun pupuk ternyata langka. Mereka bisa beli pupuk, bisa subur, hasil bagus-melimpah tapi harga anjlok, rusak dan mereka hanya membuang atau membiarkan.


Bertani adalah naluri, untuk berekpresi dan bertahan. Di kota sudah marak dengan pertanian jaman ini. Hidroponik mungkin salah satu pilihan untuk memanfaatkan lahan dan juga menyalurkan naluri bertani.

Setidaknya, terima kasih Petani, selamat Hari Tani, semoga tetap istiqomah di jalan ini

Rempoa,  26 Sept 2020



 

Palemboko, tempat nyaman penuh pesona

Tak ada habisnya, tempat yang nyaman selalu dicari. Waktu luang, dipergunakan untuk mencari hiburan, menenangkan pikiran, kenyamanan  dan me...