Saturday, November 30, 2013

Dari Punggung Werkudara



Dalam ingatan saya, bus tingkat hanya terbayang samar dalam pikiran. Entah, dulu  pernah menemu, melihat atau merasakan bus tingkat hingga usia saya yang 30-an tahun ini. Bus tingkat dalam bayangan saya kendaraan trasportasi yang gagah dengan ketinggian kendaraan yang tak biasa, membelah jalanan, orang-orang minggir, takjub, dan tentu sensasi berada di atas akan lain. Tentu berbeda dengan kendaraan yang lain. Hanya saja membayangkan ketika itu terlintas bagaimana untuk naik ke atasnya.
Awal 2011 kota Solo yang meluncurkan bus tingkat wisata memang menggugah penasaran, hanya sayang saya masih di Jakarta dan belum sempat naik bus tingkat itu bila pulang ke Sukoharjo. Rupanya hak saya untuk naik bus tingkat itu ada. Berbekal kebaikan dan informasi seorang teman, akhirnya tiket sudah ada di tangan. Itupun setelah dua tahun lebih menunggu.
Bus tingkat yang dinamakan Werkudara tak setiap hari melaju di jalanan kota Solo. Pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur bus tingkat itu akan beroperasi. Sebenarnya ada pada hari selain hari tersebut, tetapi mana mungkin saya sanggup membayar sewa, kalupun harus mengajak orang jelas mana mau orang Solo naik bus itu dengan tiket 20.000, berapa liter bensin yang diperlukan untuk jarak tempuh yang sama. Tapi ini kan lain.

Pada hari operasional Werkudara akan berjalan tiga kali, pada pagi jam 09, jam 12, dan jam 15. Kebetulan hari itu pas satu Muharam, dan kawan-kawan dari Jakarta ngidam naik Werkudara. Alhasil saya sudah berada di dalam bus yang dingin. Oh ada tangga untuk menuju ke atas, dan saya memilih duduk di bawah dekat tangga, toh saya sudah hapal kta Solo. Setidaknya saya juga memberi kesempatan kawan dari Jakarta untuk menikmati kota Solo.
Kebetulan sekali tempat duduknya empuk dan enak buat bersandar, sambil mendengarkan guide bus tingkat yang merdu. Ah, kalau tidak malu pasti sudah tidur.
Rute Berangkat
Rute yang dilewati yaitu, dari kandangnya bus ini  menyisir jalanan stadion Manahan, perempatan Manahan yang terkenal dengan patung Kresna memanah belok ke kekiri. Sepanjang jalan ini ada Lokananta. Produsen musik, yang menghasilkan beragam rekaman, dari piringan hitam hingga kaset audio. Saya pernah mendengar Lokananta, namun jujur jika di sini perusahaan ini berada. Aneh memang, sebagai warga Solo dan sering melewati jalan Ahmad Yani kok baru tahu di sini museum itu.
Hingga mentok dan sampai di pertigaan Kerten, Rumah Sakit Panti Waluyo dan bus belok kiri. Bus menyisir Jalan Slamet Riyadi, jalan protokol utama kota Solo. Di kanan-kiri beragam gedung perkantoran, juga tak kalah asing adalah stasiun Purwosari, di tempat ini favorit saya bercengkerama dengan kereta. Tempat wisata yang murah dan meriah, sambil wedhangan tentu akan menambah kenangan tak terlupakan. Sayang sekali Werkudara hanya melintas dan menyisir Slamer Riyadi, dan tentu juga bersisihan dengan rel yang masih dipakai. Rel ini menuju kota Sangkrah, Sukoharjo dan Wonogiri. Rel yang pernah membawa saya menuju kota Wonogiri dengan uang 2000 rupiah, sayang kereta feeder satu gerbong itu tiada. Dan  Railbus gagal beroperasi.
Ada Loji Gandrung, rumah dinas walikota Solo yang di dalamnya sungguh eksotis, ada joglo di dalam dan juga beberapa kereta kencana  yang diparkir di samping kanan rumah dinas yang pernah ditempati Jokowi ini. Setidaknya saya pernah ke sini, sehingga tahu di dalamnya. Bus ini hanya lewat dan masih menyusuri Slamet Riyadi, hingga di Gladhag. Bus belok kiri, membelakangi dua Gupala dan patung gagah Salmet Riyadi. Bus berhenti di depan Bank Indonesia, bangunan cagar budaya kota Solo.
Penumpang boleh turun, mengabadikan dan memotret moment dengan Werkudara. Di depan ada benteng Vestenburg, Bank Indonesia, Kantor Pos, dan kantor Walikota Solo.

Setelah melaju melewati Pasar Gede, bus melintas di rel yang sebelah kanannya adalah stasiun Jebres, stasiun kereta ekonomi ke arah Barat (Jakarta, Bandung. Semarang) dan Timur (Surabaya, Kediri, Malang) hingga di perempatan Panggung, belok kanan melintas di RS dr Moewardi dan Universitas Ngeri Surakarta, terus menuju Taman Wisata Taru Jurug. Di sini bus berhenti, pergantian tempat duduk—yang atas turun di kursi bawah, yang semula di bawah duduk di kursi atas untuk menikmati sensasi bus tingkat.
Rute Balik
Bus yang sudah roling posisi kembali melaju, masih menyusuri jalan Ir. Sutami, belok ke RS dr Moewardi dan di perempatan Panggung belok kanan. Saya yang ganti berada di atas memang sungguh lain rasanya. Melihat pemandangan dari bus tingkat agak aneh, namun asyik. Sayang sekali beberapa kali jendela bus terhalan daun dan ranting dari pepohonan di pinggir jalan. Tingginya bus Werkudara yang 4, 2 meter belum membuat dinas terkait membersihkan ranting agar tidak mengenai badan bus.
Perempatan Kepatihan bus belok kiri, sepuluh meter kemudian belok kanan menyusuri jalan ke Pasar Kliwon, di sini pemukiman keturuan Arab, sehingga banyak toko yang menjual aksesoris dari negeri timur tengah itu.
Arus balik hanya melewati beberapa pasar tradisional, sebutlah Pasar Gading, Gemblegan, dan yang tak kalah  keren adalah Alun-alun selatan kraton Surakarta. Walau hanya lewat setidaknya memberikan gambaran bahwa Alun-alun Selatan masih menyediakan ruang bagi wisatawan.
Akhirnya dari Laweyan yang terkenal dengan kampung batik bus Werkudara melaju ke utara, melintas di Slamet Riyadi menyusuri jalan Muwardi, melewati lapangan Kota Barat dan kembali ke kandang.
Perjalanan yang sungguh nikmat, nyaman yang dilakukan di bus tingkat telah menorehkan pengalaman tersendiri.  Kapan anda akan mencoba!


kompetisi tulisan tentangsolo


Wednesday, November 13, 2013

Sebenarnya Saudara

Siapa pernah merenung, kembali ke masa lampau. Seolah kita menjadi Adam, yang telah menikmati pelbagai nikmat surga kemudian harus menjalani pengasingan di bumi. Wilayah yang asing, tak ada pengetahuan, tak sesiapa, hanya alam dan ayat yang harus dikaji demi pengetahuan masa depan. Seolah kita menunggu Hawa, yang telah diciptakan dari tulang rusuk yang memang sudah digariskan kepada hidup kita.

Bagaimana mula dua sejoli itu belum bertemu. Apa gerangan yang kedua manusia yang mulanya berpasangan menjalani untuk menunggu pertemuan. Oh, alangkah sepi dan tak tentunya perasaan. Mungkin (saja) sebab ketaatan kepada ALLAH yang membuat keduanya Ikhlas dan bersabar. Hingga bertemua dan membentuk sebuah koloni, atau kita menyebutnya keluarga.

Keluarga, sungguh kata yang belakangan hari semakin melebar dan mengerucut makna yang kemudian melekat dalam jiwa saya sebagai sebuah arti yang sama dengan sejiwa sepersaudaraan.

Setidaknya memiliki keluarga adalah impian, bisa menumbuh kekeluargaan adalah berkah yang harus senantiasa disyukuri. Saya memiliki keluarga sejak kecil, kemudian bertumbuh kekeluargaan dengan orang lain. Menjadi saudara dengan orang yang sejalan dengan kita.

setidaknya saya juga memiliki keluarga yang melebihi dari saudara kandung. saudara yang selalu mengingatkan dan menumbuhkan cinta saya. Oh, keluarga yang melebihi saudara kandung yang tentu telah digariskan oleh Takdir. Saya memilikinya....
 
Curhatan aneh

Monday, October 14, 2013

Melabeli dengan Ikhlas




Ketika kita teringat sebuah kisah yang menjadi penanda agung tentang keikhlasan berkorban, tentu lompatan ingatan akan berkunjung kepada Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail. Dengan tidak mengenyampingkan dan menyisihkan utusan manusia suci yang lain, kedua nama ini telah menjadi pelaku dari sebuah momentum yang historik, sehingga peristiwa itu diabadikan tak hanya hingga sekarang, tetapi hingga akhir zaman..
Seorang ayah yang sangat begitu mencintai anaknya mendapat sebuah mimpi yang tak bisa ditawar. Mimpi untuk menguji keteguhan Iman kepada Sang Maha Pemilik. Sang anak yang mendengar tutur sang ayah berusaha ikhlas menerima keputusan paling bijak. Perintah paling mutlak kebenarannnya dan tak bisa disangkal pun memerlukan komunikasi dengan pihak yang berhubungan dengan objek kebijakan yang akan diambil. Pelajaran paling mulia dari sang ayah yang begitu mencintai anaknya. Semua hanya titipan, hanya sementara.
Menjadi manusia harusnya memunyai rasa dalam dirinya bahwa ia memang kecil, merasa ketitipan peparing, dan ia bukanlah siapa-siapa, maka ia tak akan menyombongkan diri. Rasa ini harus dilekatkan oleh manusia siapa saja. Pejabat  tak akan menggunakan jabatan yang dilekatkan kepadanya dengan sewenang-wenang. Pemangku kebijakan tak sembarang membuat peraturan yang hanya menguntungkan sebagian pihak dan menzalimi pihak lain. Sebagai masyarakat harus sebisa mungkin memilah dan memilih mana yang menuju pada persatuan dan hal yang mana dapat memecah persatuan.
Individu memiliki kebebasan dalam bertindak, selama hal itu tidak merugikan orang lain. Berkorban adalah salah satu cara kita menjadi individu yang peduli dengan diri sendiri dan orang lain. Berkorban adalah peribadahan yang multidimensi, satu sisi menjadi penghambaan kepada Pencipta, di sisi lain ini sebagai bentuk pemerataan  dan hubungan sosial dengan individu yang lain. Individu bukanlah pemilik mutlak sesuatu hal, kepemilikannya memiliki cecabang yang berhubungan dengan individu lain. Maka   menggunakan yang bukan mutlak miliknya tidak boleh sembarangan. Ada konsepsi dan tata aturan yang termaktub dalam kitab suci atau peraturan yang lain.
Berkorban adalah peristiwa “penghancuran” diri. Semua hal dari diri yang membelengunya semaksimal mungkin dihancurkan. Berusaha ikhlas untuk mengeluarkan harta, membeli kambing atau sapi, lalu membagikan dagingnya kepada orang lain bukanlah semata-mata sebab uang. Mustahil memang jikalau manusia berkorban hanya untuk pamrih demi tujuan yang sesaat. Ada sesuatu yang jauh untuk diraih. Ada berlian yang jauh untuk diraih dan sebagai cahaya kelak setelah berpulang pada keabadian.

Politisasi Raya Hewan Korban  
Budaya baru yang timbul dari Hari Raya Kurban adalah pelabelan. Hewan kurban yang dikalungi kain selempang. Ada sapi presiden, selempang nama wakil rakyat, nama bupati dan pejabat birokrasi yang lain memang sudah begitu jamak. Kejamakan yang sepertinya akan terus dilestarikan oleh pihak-pihak yang pintar memanfaatkan momen. Menganggap Idul Korban adalah peristiwa politis. Memang tak ada yang menyalahkan, hanya peradilan amal yang kelak menghakimi. Bukan tulisan ini atau siapa saja yang senantiasa menggaungkan pada ajakan untuk keikhlasan.
Hal ini juga berimbas kepada sekelompok orang, yang memiliki basis orpol (organisasi politik)  atau ormas (organisasi masyarakat) yang demekian juga memakai cara yang sama. Sapi dan kambing yang dikalungi selempang ormas memang tak ada yang menyalahkan, tak ada saling serang keberadaan hewan berkalung selempang nama.
Bendera kelompok memang begitu sakral. Bendera itu harus dikibarkan di mana saja dan kapan saja bila boleh. Apalagi untuk peristiwa yang melibatkan orang banyak, bendera menjadi senjata utama untuk mengiris hati massa agar mengakui keberadaan kelompoknya. Lebih penting mana bendera kelompok atau  keikhlasan?
Sebaiknya kembali pada Katimuran, sebagai pijakan etika. Ini hanya sebagai etika, sebagai adab yang seharusnya budaya katimuran selalu dipegang teguh tongkatnya. Bukankah bila berinfaq tangan kiri tak boleh tahu. Ini soal yang lebih besar tentang pendewasaan peradaban. Hewan korban bukanlah tunggangan politis. Ia adalah hewan kurban untuk tunganggan menuju yang lebih baik. Hewan yang kelak dengan cahaya yang begitu terang menuju kepada peradilan yang paling adil. Hewan yang menyucikan dan menyejahterakan.
Idul adha adalah penghancuran terhadap kesombongan diri. Kedirian yang seharusnya lebur dan menyatu dengan diri orang lain, merasa sama dan sederajat dengan orang lain, merasa senasib dan sepenanggungan sebagai khalifah bumi, dan juga sebagai makhluk yang diukur tingkat ketakwaan oleh Tuhan, bukan manusia ataupun makhluk lain.
Agama memunyai fungsi psikologis dan sosial. (1)Fungsi psikologis yang tecermin di saat kita beribadah kita hanya mengharap ridha Tuhan, dengan begitu kita mendapat ketenangan, tak ada yang membuat kita sedih atau risau jika kita beragama. (2)Fungsi sosial akan mengalir pada akar tujuan bila dalam pelaksanaan aturan agama juga memerhatikan individu yang  lain, sebagai satu kesatuan sosial yang terkecil. Menghormati orang lain akan menciptakan religiusitas sosial. Dengan demikian akan menekan ketegangan yang berimbas pada  konflik sosial.
Idul korban menjadi jembatan untuk menyatukan segenap bagian masyarakat, bukan memetakan kelompoknya dalam kain selempang hewan korban dan juga daging dengan kupon organisasi tertentu. Daging korban adalah harus  dengan kupon dan juga label ikhlas untuk semua. Daging yang yak hanya untuk umat Islam saja, tetapi untuk semua umat manusia. Daging untuk menyatukan semua umat agar bersatu dalam kerukunan dan kebersamaan social.
Idul korban  boleh disebut tonggak pengurbanan tanpa pamrih, selain ikhlas dan mengharap ridha Allah, tentu tak ada yang lain. Bersedia berkurban untuk menghormati orang lain, dengan menyimpan ambisi untuk menunaikan kewajiban diri yang bisa menyakiti orang lain adalah tujuan kita berkurban. Jangan sampai setiap tahun merayakan hari raya kurban selalu berakhir dengan membuka penyakit dan memberikan luka untuk orang lain, tentu kita tak ingin amal ibadah kita sia-sia atau muspra. Siapa berani melabeli hewan korban dengan ikhlas?


Thursday, May 23, 2013

Jumat



Sebenanya kita hidup ini untuk apa, untuk siapa, dan mengapa. Perjalanan waktu akan menjawab semua pernyataan itu. Kita berada di dunia, tempat ujian, area kita menebar benih kebaikan, panggung kita menghadapi segala skenario yang telah ditetapkan oleh Sang Pemilik Hidup, ALLAH. Lalu apa yang kita khawatirkan. Kita bukanlah makhluk yang lalai dengan ayat, yang ingkar dengan ayat. Kita makhluk mulia, hendaknya di dunia kita menjunjung kemuliaan. Bukankah menjadi manusia mulia adalah indah, dan membuat bahagia.
Lalu, dengan berbuat kebajikan, saling mengasihi sesama, meringankan kesusahan orang lain, adalah benih yang harus dipupuk. Agar ia lestari dan wangi bagai kesturi….

Omah gedheg 2013

Thursday, May 16, 2013

Nasihat untuk Dhiri



Kekasih, sudahkah kita menakar cinta. Jika masih ada pertanyaan kenapa harus ditakar, sebab cinta tak tetap. Cinta memuai dan mengkerut. Kita harus sering menakar cinta kita. Sebab apa, sebab Cinta manusia sering berbalut karat. Cinta yang berkarat hendaklah selekasnya disepuh dengan kebeningan hati, kejernihan akal jika manusia adalah makhluk. Seyogyanya makhluk ia akan mengagungkan pencipta. Dialah ALLAH, pemilik segala yang tampak dan tersembunyi, yang terlihat dan yang rahasia. Cinta ALLAH tak mungkin kita bisa menyamai. Cinta ALLAH adalah cinta Kaffah, dan kita selalu lupa untuk berbenah. Atau kita menciptakan keheningan dalam keramaian. Kalian adalah manusia pilihan, yang diberi hak untuk menikmati dunia. Maka carilah ridha allah, sebab dengan mencarinya cintamu yang berkarat lambat laun akan meluruh, hilang, dan menjadi cinta yang kaffah.  

Apabila yang berkarat itu cintamu kepada manusia, maka tak ada jalan lain selain menebar sapa kepada sesama. Bertegur sapa adalah membuka kran kebaikan. Setelah kran itu dibuka, tentu insyaallah segala kebaikan akan mengalir. Ingatlah, sesama manusia itu ladang amal. Saling menolong dan membantu adalah kasih dalam perbuatan bukan hanya teks yang dibaca. Maka segeralah mulai memerhatikan saudara, teman, tetaangga, orang terdekat, yang jauh, yang satu perjalan, atau yang dalam perjumpaan.

Melakukan hal yang kadang hal yang dianggap sepele merupakan bakti terhadap kasih sayang. Memberikan air minum, membawakan sesuatu, menyediakan waktu untuk berbagai tentu akan mengindahkan kehidupan ini. Sepatutnya kita menghindari orang lain tersinggung, menjaga diri, memelihara adab demi kehidupan bersama menjadikan dunia ini lebih indah, lebih indah dari sekedar angan-angan.

Omah gedheg, 17 Mei 2013.
(Nasihat untuk diri sendiri)

Tentang Bola


Sudah empat tahun lebih saya tak menikmati aliran bola dari kaki ke kaki, dari kepala ke jaring gawang atau tendangan keras yang membentur  tiang gawang. Selama tak menikmati, juga saya menjauhi pemberitaan mengenai bola. Ini bukan sebab saya membenci bola, sebab sebuah alasan saya tak mau terbawa oleh arus sepak bola yang kadang menyiksa: begadang, bangun malam, makan malam sebab lapar, dan siang hari dengan mata ngantuk juga kepala yang berat. Sepakbola selalu memabukkan, setidaknya bagi saya yang labil, mudah terbawa, dan tak mudah melepaskan sesuatu yang melekat: tentang permainan, gol, pelanggaran atau yang lain.

Kesukaan terhadap sepakbola sudah sekitar tahun 1995 waktu masih sekolah menengah atas. Menjadi broker bagi teman-teman yang ingin taruhan, dan begitulah broker tak pernah kalah. Saya selalu menang, sebagai imbalan mencarikan lawan petaruh. Broker adalah pekerjaan sambilan yang cocok bagi pelajar untuk saat itu dan sangat gampang dilakukan. Saya dengan mudah mendapatkan petaruh untuk sebuah pertandingan.

Oscar Luigi Scalfaro adalah presiden dari  negara yang liga sepak bola nya saya senangi. Saat itu di kotaku ada dua tabloid olahraga, yakni Bola yang terbit seminggu dua kali (Senin dan kamis) dan GO. Liga Italia menjadi sangat begitu penting, sebuah stasiun TV swasta rutin menyiarkan, dan tak menutup kemungkinan dengan siaran dari stasiun TV lain dengan liga Inggris dan Jerman. Hingga secara pribadi saya memunyai tim idola. Sebutlah Juventus (Italia) Arsenal (Inggris) FC Kaiserslautern  (Jerman)

Saat saya tinggal di Jakarta, glidik dan mencoba menimba segala ilmu, jiwa petaruh malah yang berkobar. Petaruh, saya rasa  posisi aman daripada broker untuk level yang lebih tinggi dan sebuah resiko. Banyak pertandingan, laga  antar klub dan negara semuanya tak lepas dari incaran taruhan walau dalam kapasitas ribuan rupiah (bisa bakso, nasi padang, nasi goreng, atau sate). Hingga saya pernah menang sangat besar untuk tebak-tebakan hasil sebuah liga. Anehnya uang itu tak jelas rimbanya, kalau dalam bahasa jawa ora temonjo. Inilah yang menyadarkan saya, uang tak bernilai jika tak tahu nilai sebenarnya dari uang.

Begitulah sejarah dan pengalaman dari sebuah laku penggemar sepak bola. Italia menjadikan saya sebagai manusia yang mencintai negara  seolah bagian dari mereka. Pun saat ini, di rumah tak ada TV, dan tak menonton TV di tetangga, mendengar Italia lolos ke final adalah kebahagian yang tak ternilai. Tentu dengan kadar fanatisme yang lebih kecil saat saya menonton atau menikmati sepak bola itu sendiri. Saya memilih Italia, dan menganggap mereka sudah menang walau Final EURO masih beberapa hari lagi. Salam olah raga.

Omah Gedhek 2012, pagi sekali setelah bunyi telepon yang tak kuangkat.

Dak Waca Duhkita


Dhakwaca layangmu, Cah ayu
Warna ijo jambu sing mangsine luntur
Dadi abang mbranang, lan tumetes tanpa kendhat
Kaya banyu bengawan sing saben sore dhaksawang
Karo nunggu balimu, lan mrahoke prahu kertas
                                   pinangka layang kabarku
Sebab,  panen iki durung tuwuh ing jumbuh

Dhakrasake duhkitamu, Cah Ayu
Saben esuk lan wengi angin ngabarke tangis
Ngabarke awak lan derajatmu sing tirusak
Dening kahanan lan praharan

Among siji pasuwunku
Garis urip iku kudu diturut
Sabar lan ikhlas
Kaya godhong kang nunggu embun
Sing tumetes sajroning nunggu

Kanggo para TKW, 2010
(jayabaya, Minggu kapisan, Juli, 2011)

Palemboko, tempat nyaman penuh pesona

Tak ada habisnya, tempat yang nyaman selalu dicari. Waktu luang, dipergunakan untuk mencari hiburan, menenangkan pikiran, kenyamanan  dan me...